oleh: Chairil Anwar
Kami yang kini terbaring antara Krawang-Bekasi
tidak bisa teriak “Merdeka” dan angkat senjata lagi.
Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami,
terbayang kami maju dan mendegap hati ?
Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu.
Kenang, kenanglah kami.
Kami sudah coba apa yang kami bisa
Tapi kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu nyawa
Kami cuma tulang-tulang berserakan
Tapi adalah kepunyaanmu
Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan
Atau jiwa kami melayang untuk kemerdekaan kemenangan dan harapan
atau tidak untuk apa-apa,
Kami tidak tahu, kami tidak lagi bisa berkata
Kaulah sekarang yang berkata
Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika ada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kenang, kenanglah kami
Teruskan, teruskan jiwa kami
Menjaga Bung Karno
menjaga Bung Hatta
menjaga Bung Sjahrir
Kami sekarang mayat
Berikan kami arti
Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian
Kenang, kenanglah kami
yang tinggal tulang-tulang diliputi debu
Beribu kami terbaring antara Krawang-Bekasi
( 1948 )
Brawidjaja,
Jilid 7, No 16,
1957
wahyu aves said,
March 6, 2009 at 10:32 pm
Maaf temen temen.. puisi audionya ak hapus.. ada complain dr seseorang masalah copyrightnya..buat temen2 yg dah pernah DL.. tolong jgn diupload..Thanks
wahyu aves said,
March 6, 2009 at 10:50 pm
kuganti aja dgn karya lain.. ini iringan tari.. pernah kupakai untuk festival tari Fak Ekonomi Unibraw..tapi versi live..
kalo yg ini ak buat semuanya digital…secara konsep nggak beda dengan versi livenya.. moga berkenan
http://www.ziddu.com/viewfile/821244/KAHAYAN.mp3.html